Halaman

Rabu, 26 Juni 2013

Sungai Thames

Sungai Thames, London dari yang Kotor Menjadi Terbersih di Dunia




Rakyat Inggris saat ini bangga dengan keberadaan sungai Thames yang merupakan sungai terbersih di dunia. Kondisi demikian ternyata tidak mudah dan memerlukan proses yang panjang. Saat ini sungai tersebut dapat digunakan untuk Cruise dan kegiatan lain yang menyenangkan. Pengunjung tanpa terganggu bau sungai yang tidak sedap seperti waktu dulu. berbagai ikan seperti Salmon,Trout dan lainnya bisa hidup juga berbagai jenis burung mencari makan di sungai ini (admin).  
 
Di tepi sungai diberi ruang untuk kendaraan mengangkut sampah dari sungai,bisa juga untuk olahraga, Bazaar dll 

Sungai Thames merupakan sungai yang mengawali sejarah Kota London berdiri. Kota ini dibangun oleh Kerajaan Romawi di abad 43 AD saat mereka menjajah wilayah Inggris, awalnya kota ini bernama Londonium. Sungai Thames berperan sangat penting terhadap penyediaan protein ikan bagi penduduk kota selain untuk air minum, pengairan lahan pertanian dan juga transportasi.

Dewasa ini, Sungai Thames lebih banyak dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata. Para wisatawan yang berkunjung kesana tidak akan melewatkan tur mengarungi sungai dengan kapal. Walaupun harus merogoh “kocek” sekitar 15 Euro per trip. Tur ini akan membawa para turis melintasi beberapa ikon pariwisata terkenal di kota London, seperti Gedung Parlemen kerjaan Inggris, London Bridge, London Eye (mirip seperti wahana kincir di Ancol) , Menara London, Gereja Katedral St Paul dan juga Pasar Ikan Billingsgate yang dulunya adalah pasar ikan terbesar di Inggris.

   
Kapal cruise, London Eye dan pedesterian yang nyaman 

Namun dibalik keindahan sungai ini ternyata ada cerita buram yang mengisi sejarah mengalirnya sungai ini di Kota London. Membengkaknya populasi penduduk ditambah revolusi industri di Inggris, memperparah kondisi sungai. Sungai menjadi tempat penampungan limbah rumah  tangga (termasuk kotoran manusia) dan industri yang mengakibatkan sungai tercemar berat. Sejarah mencatat berbagai kejadian buruk yang menimpa Kota London akibat kondisi Sungai Thames yang sangat tercemar. Dimulai dari tahun 1932 ketika wabah kolera menjangkiti penduduk kota, tercatat ribuan orang meninggal akibat penyakit tersebut.

 
Pemandangan di malam hari dari kapal cruise

Kemudian ketika musim panas di tahun 1858 sungai ini mendapat julukan baru sebagai The Great Stink atau ‘the big stink” karena bau menyengat yang berasal dari sungai. Kandungan H2S yang sangat tinggi  mengakibatkan sungai berbau seperti telur busuk. Pada tahun 1878 sebuah kapal bermesin uap bernama Princess Alice yang membawa sekitar 600 orang penumpang terbalik di sungai ini akibat sebuah tabrakan. 

Seluruh penumpang diberitakan meninggal bukan karena tenggelam, namun karena menghirup racun yang terkandung di air sungai yang tercemar berat. Tahun 1957 sungai tersebut dideklarasikan sebagai sungai yang mati secara biologis, dimana kehidupan baik ikan maupun burung tidak ditemukan lagi disana. Hal tersebut diakibatkan oleh rendahnya kadar oksigen terlarut di air sungai serta racun yang terkandung dari polusi.

Sejak sungai ini dideklarasikan sebagai “The Great Stink” atau “Bau Besar”, pemerintah Kota London terlebih anggota parlemen berusaha keras mengatasi masalah polusi di Sungai Thames. Apalagi bau busuk dari sungai selalu tercium sampai ke ruangan para anggota parlemen. Sejak itu pemerintah mulai mencanangkan berbagai program pengelolaan sungai. Dimulai dengan mega proyek konservasi dan modernisasi sistem saluran pembuangan kotoran manusia, perbaikan sistem pembuangan limbah industri. 

Kemudian pemerintah membentuk berbagai otoritas yang bertugas untuk mengelola sungai, sumber air, banjir, polusi serta saluran pembuangan kotoran manusia.  Disamping itu berbagai peraturan diterbitkan guna mengatur segala kegiatan terkait pemanfaatan sungai dan pengendalian saluran pembuangan kotoran manusia.

Tercatat sejak tahun 1970-an berbagai program tersebut mulai memperlihatkan hasil yang sangat memuaskan. Ikan dan burung mulai kembali ke sungai yang menandai pencemaran di sungai sudah mulai berkurang. Kerja keras yang dilakukan dalam waktu yang cukup panjang ternyata dapat dirasakan oleh penduduk London saat ini. 

Mereka bisa hidup bangga berdampingan  dengan salah satu sungai terbersih di dunia. Tercatat sekitar 125 jenis ikan berenang di sungai ini termasuk ikan salmon dan trout, selain itu sekitar 400 spesies hewan tidak bertulang belakang hidup di lumpur, di tengah, dan tepian sungai. Begitu pula dengan berbagai jenis burung.

Bazaar mingguan di tepi sungai Thames 

Sampai saat ini program bernama “Thames River Clean Up” atau “Pembersihan Sungai Thames” masih dilaksanakan. Tujuannya untuk meningkatkan kebersihan sungai dan mencegah pencemaran. Tenaga relawan, terutama masyarakat sekitar secara sukarela dan senang hati turut serta membersihkan sungai yang mereka cintai.

Pengalaman London di masa lalu mungkin sama dengan apa yang sedang dialami oleh beberapa kota besar di Indonesia. Kondisi dimasa lalu sedikit sama dengan sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta. Sungai ini sedang menderita sakit kronis akibat pencemaran limbah industri dan rumah tangga. Sudah saatnya kita mencoba untuk mengembalikan keberagaman ikan-ikan dan makhluk air lain yang dulu hidup di aliran sungai tersebut.Via : green.Kompasiana dan lainnya 

Senin, 27 Mei 2013

Perpustakaan Paling Unik di Dunia

Perpustakaan Paling Unik di Dunia


Perpustakaan Umum merupakan bangunan publik yang msih tetap eksis sampai saat ini walaupun teknologi informasi bisa memuat segala informasi yang bisa diakses dari rumah melalui komputer. Bangunan di desain dengan serius untuk menjadi ikon suatu tempat atau pada kawasan tertentu. Berikut ini kita simak bentuk bentuk perpustakaan di beberapa kota :
   
1. New York Public Library, New York


 Perpustakaan Umum New York merupakan salah satu bangunan ikon NYC. Dibangun di atas lokasi Waduk Croton tua, perpustakaan publik pertama New York dibuka pada tahun 1911. Bangunan ini dibangun dengan menggunakan 530.000 meter kubik marmer. Menurut situs resminya, perpustakaan ini berisi 15 juta buku, termasuk manuskrip dari 1.200 bahasa dan dialek, lebih dari 350 karya katalog oleh George Sand dan salinan paling awal dari Nican Mopohua.


2. Salt Lake City Public Library


Dirancang oleh arsitek Moshe Safdie, perpustakaan Salt Lake City dibuka pada tahun 2003. Bangunan enam lantai ini memiliki sebuah auditorium dengan 300 kursi dan area membaca multi-level. Cahaya alami terpancar dari segala arah gedung. Perpustakaan tersebut menampung lebih dari 500.000 buku dan barang-barang lainnya.


3. Geisel Library, University of California, San Diego


Dirancang pada tahun 1960 oleh William Pereira, University of California memiliki gedung perpustakaan geometris yang bernama Geisel library untuk menghormati Audrey dan Theodor Geisel (dikenal sebagai Dr Seuss) pada tahun 1995. Perpustakaan tersebut mempunyai lebih dari setengah juta item, termasuk buku, majalah dengan berbagai alat referensi dan sumber daya digital seperti ARTstor (gambar) dan Database Tercatat American Music (streaming audio).


4. Seattle Central Public Library


Setelah melalui perombakan besar-besaran, Perpustakaan Umum Pusat Seattle kembali dibuka. Perpustakaan tersebut memiliki 11 lantai. Tampilan bangunan ini unik dan nyentrik, jika dilihat sekilas tak tampak seperti perpustakaan. Anda tertarik mengunjungi tempat itu?


5. Trinity College Library, Dublin, Irlandia


Perpustakaan terbesar di Irlandia, perpustakaan Trinity College kembali dibuka pada 1592. Rumah pintar ini menyimpan 5 juta item, termasuk jurnal, manuskrip, peta dan musik. Beberapa koleksi khusus meliputi Koleksi Ussher dan Koleksi Fagel. Perpustakaan juga memiliki naskah kitab kells.


6. Abbey Library, St Gallen, Swiss

http://www.indojamtangan.com
Perpustakaan ini adalah yang tertua di Swiss. Perpustakaan Abbey adalah rumah bagi sekitar 170.000 buku dan bahan-bahan lainnya. Salah satu fitur unik dari perpustakaan adalah koleksi naskah dari awal Abad Pertengahan sampai 1805.


7. Vatican Library, Vatikan

http://www.unikgaul.com
Perpustakaan Vatikan menyimpan lebih dari 180.000 manuskrip , 1.6 juta buku, 8.600 incunabula ( istilah yang digunakan oleh kolektor buku Inggris untuk menjelaskan buku-buku yang dicetak pertama kali pada abad ke 15), 300.000 koin dan medali, 150.000 lukisan dan 150.000 foto. Namun tidak semua orang bisa melihat koleksi tersebut. Pengunjung yang bisa menyaksikan koleksi ini adalah peneliti, akademisi, guru dan mahasiswa pascasarjana.